Pengelolaan Parkir Kompleks GBK Disarankan Mencontoh Kemayoran

28 September 2017

Laporan Wartawan, Wartakotalive.com, Rangga Baskoro

WARTA KOTA, TANAH ABANG --- Kompleks Gelora Bunga Bung Karno (GBK) merupakan aset negara yang penanganannya berada di bawah Sekretariat Negara (Setneg).

Dalam hal ini pihak Setneg membentuk instansi bernama Pusat Pengelola Kawasan (PPK) GBK untuk mengelola lingkungan GBK.

 Hal tersebut juga sama seperti daerah Kemayoran yang pembenahannya bukan berada di Pemda DKI Jakarta, melainkan di tangan PPK Kemayoran.

Namun, dalam urusan perparkiran, Kompol Mustakim, Kanit Reskrim Polsek Metro Tanah Abang mengatakan kawasan Kemayoran lebih tertata rapih dibandingkan dengan GBK yang dijaga oleh kelompok preman multietnis.

Baca: DPRD DKI: PT Transjakarta Mesti Diaudit Terkait Biaya Administrasi Top Up Rp 2.000

"Kemayoran bisa kok, pengelolaanya sama seperti GBK di bawah Setneg. Kenapa mereka bisa? Di sana (Kemayoran), di setiap bloknya ditaruh tukang parkir yang jagain parkiran dan mereka digaji. Kalau di GBK kan tidak. Di kemayoran tertata rapih, ada pagar-pagar," kata Mustakim di Mapolsek Metro Tanah Abang, Jumat (22/9/2017).

Meski begitu, pihak kepolisian mengaku berkali-kali melakukan razia preman di GBK. Mereka yang terjaring akan dibawa ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1 dibawa Dinas Sosial DKI Jakarta yang terletak di Kedoya, Jakarta Barat.

Namun, setelah beberapa minggu dibersihkan, preman-preman kembali mengokupansi lahan parkir.

Oleh sebab itu Mustakim menyarankan agar pihak pengelola bisa lebih serius menangabi permasalahan tersebut.

"Makanya kalau gedung parkiran dan sarana lain sudah jadi, harus diperketat pengawasannya. Pembenahan parkir harus terpadu," ucap Mustakim.

Sudah menjadi rahasia umum apabila memasuki kawasan GBK seperti di Jakarta Convention Center (JCC), masyarakat diharuskan membayar dua kali untuk parkir kendaraan.

Baca: Nia Ramadhani Takut Anaknya Tidak Bisa Berhitung

Pertama di depan pintu gerbang, kemudian di tempat mereka parkir dimana preman-preman menjaga lokasi tersebut.

Bahkan terkadang tarif yang ditentukan lebih mahal daripada tarif resmi di loket pintu masuk.

Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Warta Kota